Solusi Bangsa Kurang Gizi

 

Tentu ada yang keliru kalau sudah sekian dasawarsa masalah kurang gizi bangsa kita belum juga beranjak menjadi lebih baik. Bahkan pihak Departemen Kesehatan sendiri mencatat, data mutakhir pada 2003 angka kurang gizi kita malah meningkat. Saya pun tidak terkejut, tapi tersedu kalau sejawat Adi Sasongko, Direktur Yayasan Kusuma Bangsa, baru-baru ini mengungkapkan bahwa tujuh dari 10 murid SD di Jakarta kekurangan gizi (Koran Tempo, 4/5).
Kita mafhum, kekurangan gizi terjadi bila tidak semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh terpenuhi oleh menu harian. Menu harian tak memenuhi seluruh kebutuhan tubuh lantaran (1) ketidaktahuan (ignorancy); (2) ketidakmampuan; (3) kondisi alam; atau gabungan dari ketiga faktor penyebab itu.
Rakyat kecil yang papa, selain tak tahu memilih sumber bahan makanan yang memenuhi "4 sehat 5 sempurna", juga rata-rata memang tak mampu membeli. Kondisi sebagian besar kekurangan gizi bangsa kita tergolong yang ini. Namun, masih tingginya angka kekurangan gizi orang kota, seperti diungkap Dr. Yustina Anie Indriastuti, Kasubag Gizi Klinis Depkes (Koran Tempo, 4/5), saya kira lebih sebagai akibat gagalnya pendidikan kesehatan sekolah kita selama ini.
Pengetahuan gizi rata-rata masyarakat sekolahan kita masih saja minimal. Saya menangkapnya dari surat konsultasi kesehatan yang saya terima sejak dasawarsa 1970-an sampai sekarang, kesan dari memberi ceramah dan seminar kesehatan, tampaknya wawasan dan pengetahuan gizi masyarakat sekian generasi kita tak banyak beranjak.
Anak Amerika dan anak sekolahan negara maju tahu memilah menu bergizi dari menu yang tak menyehatkan, selain bisa pula menasihati orangtuanya jika di meja makan terhidang menu ampas (junk food). Sebab, ketidaktahuan gizi selain mungkin ketidakmampuan (ekonomis), rata-rata anak sekolah kita alih-alih tercukupi gizinya, tubuh mereka dicemari pula oleh bahan berbahaya dalam jajanan murah.
Orang Amerika juga bukan sedikit yang kekurangan gizi akibat lapisan atas tanah (topsoil) yang bermineral sudah luruh ke laut, selain tanah kritis akibat pemakaian pupuk yang berlebihan. Sementara itu, rakyat Gunung Kidul banyak yang mengidap gondok lantaran mengandalkan kecukupan yodium dari tanahnya yang miskin mineral tersebut.
Sebagian besar anak sekolah kita yang menu hariannya memadai pun tak sedikit yang terancam kurang gizi karena cacingan. Ini yang dari tahun ke tahun menambah angka kekurangan gizi nasional juga. Pernah dihitung penyakit cacing anak sekolah (pekerjaan rumah yang juga belum kita selesaikan) menghabiskan sekian ribu ton beras yang tercuri cacing, di samping berakibat kehilangan sekian digit nilai inteligensia anak.
Solusi masalah kurang gizi nasional kita saya kira lebih pada urusan pendidikan kesehatan sekolah. Dengan pendidikan sekolah memberdayakan anak tahu memilih menu bergizi dengan cara sederhana dan murah. Bukan saja ketidaktahuan gizi anak teratasi, ketidakmampuan memenuhi gizi pun bisa dikoreksi. Kita melihat banyak anak desa yang kurang gizi, padahal di pekarangan rumahnya yang subur bisa menanam tomat, pepaya, bayam, beternak belut atau lele, sehingga kebutuhan gizi harian bisa selalu terpenuhi.
Untuk itu, paradigma pendidikan kesehatan sekolah tak cukup kognitif semata tanpa modul pembentukan perilaku sehat. Dengan mengubah paradigma pendidikan kesehatan, kita sedang menyelesaikan masalah kurang gizi dengan memilih memberi investasi (ilmu) peningkatan gizi, ketimbang mengeluarkan ongkos. Sikap berorientasi pada proyek, sekadar menambal kekurangan gizi dengan pemberian makanan tambahan (PMT) ibu, balita, dan anak sekolah seperti yang berlangsung selama ini, kita sudah melihat buktinya sekarang kalau itu semua tidak memperbaiki kondisi kekurangan gizi bangsa.
Beberapa tahun lalu saya pernah mengkritik proyek pemerintah PMTAS (Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah) dengan dana miliaran rupiah, yang tetap dilanjutkan, dengan hasil yang bisa kita lihat sekarang ini: angka kurang gizi masyarakat alih-alih bergeming, nyatanya malah meningkat.
Sebagai alternatif solusi meningkatkan gizi keluarga, waktu itu saya menawarkan gagasan membangun "masyarakat prosumen", masyarakat yang mencukupi sendiri kebutuhan gizi hariannya secara swadaya, dan ini tergolong konsep berorientasi investasi (ilmu). Saya menawarkan dana proyek PMTAS dialihkan saja sebagai modal bagi keluarga kurang gizi untuk beternak ayam atau itik yang diambil telurnya, ternak belut atau lele buat kebutuhan protein hewaninya, serta membeli bibit buah dan sayur-mayur dengan teknik hidrofonik buat pekarangan sempit mencukupi kebutuhan vitamin-mineralnya.
Dengan modal sekitar Rp 100 ribu setiap keluarga, kekurangan gizi keluarga sudah bisa memenuhi kecukupan gizi keluarga yang diperolehnya dari produksi ternak, buah dan sayur yang ditanamnya, yang diharapkan akan terus bergulir, dan bukan tak mungkin produksinya yang berlebih bisa dijual menambah penghasilan keluarga. Sayang, gagasan yang saya kira lebih menyelesaikan masalah ini tidak bersambut.
Pendukung lain untuk solusi kekurangan gizi nasional dapat ditempuh dengan menggerakkan kembali kegiatan "Dokter Kecil". Saya pribadi memanfaatkan kegiatan ini untuk mendongkrak Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) yang melempem. "Dokter Kecil" bisa menjadi motivator perilaku anak, selain mengkatrol UKS, sekaligus substitusi pendidikan kesehatan sekolah kita yang tidak berorientasi terhadap pembentukan perilaku sehat seperti yang seharusnya kita lakukan.
Pengalaman saya membentuk "Dokter Kecil" di semua SD Sekota Madya Bogor (1982-1983) menambah bukti lain bahwa pembentukan perilaku sehat sejak di sekolah berkorelasi dengan perbaikan tingkat kesehatan anak sekolah--termasuk perbaikan gizi dengan berkurangnya angka mencret, meningkatnya higienis warung sekolah, dan pilihan jajanan yang lebih berkualitas.
Selain itu, penyuluhan gizi keluarga mutlak perlu digalakkan. Bagi kebanyakan ibu sekolahan pun minimal saja pengetahuan gizinya, apalagi ibu yang tidak pernah sekolah. Maka, tugas kader gizi membantu keluarga membangun "keluarga prosumen", selain memberikan bimbingan bagaimana dengan anggaran dapur yang cekak bisa tetap memenuhi kecukupan gizi keluarga. Daun singkong, telur, belut, dan pepaya, dari "prosumen" sudah bisa memenuhi kecukupan gizi keluarga harian.
Kebiasaan masyarakat kita membelanjakan sebagian uangnya yang cekak untuk mendahulukan minum jamu, misalnya, atau membeli jajanan ampas, gorengan, yang selain belum tentu bergizi, juga pemborosan dibanding memilih bersikap "prosumen" yang dengan begitu bisa lebih hemat dan menyehatkan jika mengolahnya sendiri.
Jajanan murah juga bikin tubuh berisiko tercemar "racun" (radikal bebas) dari bahan berbahaya dalam pengawet, penyedap, pewarna, dan pemanis buatan, selain rendah nilai gizi dan higienisitasnya, mengambil porsi lebih banyak buat belanja harian yang sebetulnya bisa lebih dihemat.

Dikutip dari :
Tulisan Handrawan Nadesul
(Dokter, Konsultan Kesehatan di Sejumlah Media)

 

Sat, 26 Mar 2011 @08:50

Bikin Website, Daftarkan Nama Gratis!!

Cek Nama Domain ?

Menu Utama
Artikel Terbaru
Arsip
SLINK
Kontak Kami

Jika minat berinvestasi, berwakaf dan membuat website murah

Silahkan kontak kami

Ir. Setyorini Pradiyati

HP 085280316054/WA 085520966077

 

Email

rinimanik2008@gmail.com

 

Sekretariat

Yayasan Wakaf Ishlahul Ummah Bandung

Jl. Raya Pacet Km.07 No.38, Maruyung 01/01, Ds. Maruyung, Kec. Pacet, Kab. Bandung, Jawa Barat

 

Alamat Peternakan Sapi Potong

Kp. Cibulakan, Ds. Mekarsari, Kec. Pacet, Kab. Bandung, Jawa Barat

BUKU DAHSYAT

Hanya @ Rp 40.000.Minat membeli?

hub Rini 085280316054

UTAMAKAN WAKTU

Kajian Radio Dakwah Klik Disini!
Kajian.Net
Tanggal


DOWNLOAD GRATIS KAJIAN ISLAM

 

 

 

http://duniapustaka.com

http://www.ilmoe.com

http://dzikra.com

Tips Software Download

Free Download Software

Kegiatan Pembelajaran Untuk Anak Pra-Sekolah

 

http://www.tk-alam-alif.blogspot.com

PENGUNJUNG NEGARA MANA?
NASEHAT 2

Nasehat Sufyan Ats-Tsauri

Orang yang disebut paling berakal dan cerdas adalah orang yang dengan takdir Allah melakukan dosa, lalu dosa itu selalu ia letakkan di pelupuk matanya. Sehingga ia senantiasa menangis karenanya. Ini akan mendorong dirinya menuju surga...


Dan orang yang paling bodoh adalah orang yang tertipu oleh amal-amalnya.., ia selalu meletakkannya di depan matanya. Sehingga itu akan mengantarkannya menuju neraka..

 

Rekening Bank

Minat :

1. Investor Penggemukkan Sapi

2. Beli Sapi Kurban Sehat & Murah

3. Beli Produk Herbal

Hubungi : Setyorini  085280316054/wa 085520966077

               rinimanik2008@gmail.com


No.rek. 4291-01-005443-53-9

an. SETYORINI PRADIYATI

BRI Unit Maruyung Majalaya

 

 

Minat Berwakaf Tunai untuk Pembebasan Lahan, Sarana Pendidikan dan Modal Usaha Wakaf Produktif Salurkan ke : 

0061846204100 an YYS WAKAF ISHLAHUL UMMAH BANDUNG

BJB Kantor Kas Pacet

MOHON DOA & DUKUNGAN

Pesantren Gratis Bagi Fakir Miskin

Mohon do'anya, kami berazzam ingin mendirikan Pesantren Al-Qur'an Gratis bagi masyarakat miskin.

Alhamdulillah, saat ini telah dirintis pendidikan gratisnya, selanjutnya akan didampingi  Pesantren Tahfidz Qur'an bagi para siswanya.

Upaya membangun ketaatan masyarakat miskin di perdesaan -- kerap terabaikan--. Mereka memang memerlukan fasilitas pendidikan yang bisa diakses bagi anak-anaknya, tanpa khawatir dg besarnya biaya pendidikan.

Semoga ini adalah bagian dari rencanaNya....

Mudah2n kita semua dipilihNya menjadi jalan untuk mewujudkan rencanaNya.....insya Alloh.

Dukunglah kami dengan berwakaf dan beramal jahriyah.

JUAL ANEKA PRODUK

KAPSUL SPIRULINA

HET Rp 40.000,-/botol

kemasan 50 kapsul/botol, dengan dosis 500 mg/kapsul

Pembelian Kapsul Sprirulina Curah, minimal 2.000 kapsul  


KAPSUL CACING

HET Rp 50.000,-/botol

kemasan 50 kapsul/botol, dg dosis 500 mg/kapsul

Pembelian kapsul cacing curah, minimal 2000 kapsul

 

Terbuat dari 100% Bahan Alami. Jika minat menjadi Agen, silahkan hub Ibu Rini 085280316054. Minimal pembelian 24 botol. Diberikan harga grosir

Pengunjung

Facebook
Dunia Yang Fana

Copyright 2017 Rini PerBAIKan Ummat All Rights Reserved